JPCC Sunday – 02 Agustus 2021
By : Ps. Jeffrey Rachmat
Follow | Commitment
It’s A Big World
_______________________
Ayat Mingguan :

Lukas 9:23 (TB)
Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.
_______________________
Khotbah:

Amsal 17:17 (TB)
Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.

Hari² ini kita perlu untuk memberikan kasih kepada sahabat / orang² terdekat dengan menjadi perpanjangan tangan Tuhan agar mereka merasakan kasih karunia Tuhan dalam hidup mereka.

Bulan ini kita akan membahas tentang komitmen, khusus nya komitmen dalam mengikut Yesus.
Diperlukan komitmen yang kuat untuk mengikuti Yesus dan memikul salib.

Komitmen adalah karakteristik orang² yang mempunyai keteguhan hati untuk mencapai apa yang mereka inginkan.
Orang yang berkomitmen akan memberikan waktu dan energi nya untuk melakukan apa yang mereka yakini dan tidak mengerjakan pekerjaan setengah setengah.

Harus dipikir baik-baik sebelum memutuskan dalam melakukan sesuatu. Memegang komitmen bukan hal mudah.
Komitmen adalah dasar dari sebuah pencapaian yang berarti.

You can’t achieve greatness without commitment

Tidak ada perkara yang hebat dapat seseorang lakukan, kalau dia tidak mempunyai sebuah komitmen. Pencapaian yang tinggi memerlukan komitmen yang tinggi juga.
Pernikahan adalah salah satu bentuk dari sebuah komitmen. Kita tidak bisa mundur darinya. Pernikahan bukanlah tiket pergi pulang, tetapi merupakan tiket satu kali jalan.

There is no coming back. Contoh pernikahan. Bukan tiket pp. Tapi tiket sekali jalan.

Kejadian 2:24 (TB)
Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.

Kata “bersatu” di sini, diambil dari kata “dabaq” yang artinya melekat, menempel, memegang erat; dan itulah yang namanya komitmen

Itu sebabnya, komitmen kita harus lebih besar daripada perasaan kita. Sekali komitmen sudah diambil, tidak peduli apa yang dirasakan, apakah masih ada rasa cinta atau tidak, komitmen harus tetap dipegang!
Ada yang pernah mengatakan kepada saya seperti ini, “Tetapi saya sudah tidak rasa apa-apa lagi! Hati saya sudah tawar terhadap istri saya.”

Ini sebenarnya adalah bukti kalau dia tidak mengerti yang namanya komitmen. Karena menikah bukan soal perasaan. Perasaan kita bisa ups and downs, tetapi kalau kita komit, kita tetap pulang ke rumah, apapun yang kita rasakan.
Kalau kita komit, kita akan mengerjakan pekerjaan rumah kita. Sebenarnya yang hilang bukan cinta, tetapi yang hilang lebih dahulu adalah komitmen. Karena komitmen hilang, maka cinta juga hilang. Tetapi, kalau kita erat memegang komitmen maka kita bisa menemukan cinta kembali.

Untuk dapat memegang komitmen kita perlu yang namanya fokus, dan untuk bisa fokus maka kita harus menyingkirkan pilihan-pilihan yang lain, seberapa baiknya pilihan tersebut.
Kita tidak dapat fokus kalau kita masih membuka kesempatan untuk yang lainnya.
Banyak orang tidak berani membuat komitmen karena mereka masih membuka kesempatan buat yang lain.

Sebuah hubungan yang baik itu selalu terjadi dua arah. Ada give and take (memberi dan menerima) termasuk hubungan kita dengan Tuhan. Sebuah hubungan tidak akan bertahan lama kalau hanya terjadi satu arah saja. Kita tidak dapat terus menuntut diberikan yang terbaik, sementara kita tidak pernah memberikan yang terbaik.
Kalau kita mau menuntut yang terbaik, maka kita harus juga pastikan bahwa kita sudah memberikan yang terbaik.

Hari-hari ini saya dapati banyak orang, terutama anak-anak muda yang ingin tahu, apa sih tujuan hidupnya.
Dan mereka ingin tahu tentang kehendak Tuhan; FOMO istilahnya, fear of missing out (takut untuk ketinggalan).
Namun masalahnya, kalaupun mereka tahu apa tujuan hidupnya, tanpa komitmen yang besar mereka tidak akan dapat mencapainya

Komitmen diuji ketika bertemu dengan kesulitan² yang mereka hadapi.

Amsal 24:16 (TB)
Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.
Orang benar adalah orang yg tidak pernah menyerah. Meskipun keadaan tidak sesuai diharapkan tetap berusaha bangkit kembali.

Orang benar, bukan orang yang tidak pernah jatuh atau tidak pernah gagal. Jangan cepat menghakimi orang yang jatuh atau gagal.
Tetapi, orang benar adalah orang yang tidak pernah menyerah.
Mereka tetap bertahan di masa sulit; tetap percaya bahwa meskipun keadaan tidak seperti yang mereka harapkan, mereka berusaha untuk bangkit kembali.

Orang yang berkomitmen, memegang atau menepati apa yang dia katakan, atau apa yang dia janjikan.
Belajar memegang janji berarti belajar untuk berkomitmen. Tingkat komitmen seseorang menunjukkan tingkat kedewasaan orang tersebut.

komitmen juga memberikan ketenangan.
Contoh :
– Komitmen seorang suami untuk mempertahankan pernikahannya atau untuk tetap setia, akan memberi ketenangan kepada istri dan anak-anaknya.
– Komitmen dari sebuah perusahaan; apakah itu sebuah bank atau asuransi atau rumah sakit, dan lain-lain, akan memberi ketenangan kepada nasabah atau pasien mereka.
Ketenangan itu mahal harganya.

Jadi kalau seseorang mendapatkan ketenangan yang diperlukan, maka percayanya juga akan semakin besar.
Sebelum kita berhasil dalam memegang komitmen yang besar, kita harus belajar dulu memegang komitmen-komitmen yang kecil.
Sebab kalau memegang komitmen yang kecil saja tidak bisa, bagaimana bisa memegang komitmen yang besar?
Jadi belajarlah untuk mengambil komitmen-komitmen kecil dan kerjakan sampai berhasil.

Rut 1:1-5 (TB)
1 Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Betlehem-Yehuda beserta isterinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing.
2 Nama orang itu ialah Elimelekh, nama isterinya Naomi dan nama kedua anaknya Mahlon dan Kilyon, semuanya orang-orang Efrata dari Betlehem-Yehuda; dan setelah sampai ke daerah Moab, diamlah mereka di sana.
3 Kemudian matilah Elimelekh, suami Naomi, sehingga perempuan itu tertinggal dengan kedua anaknya.
4 Keduanya mengambil perempuan Moab: yang pertama bernama Orpa, yang kedua bernama Rut; dan mereka diam di situ kira-kira sepuluh tahun lamanya.
5 Lalu matilah juga keduanya, yakni Mahlon dan Kilyon, sehingga perempuan itu kehilangan kedua anaknya dan suaminya.

Dapatkah kalian bayangkan, tetapa sulitnya keadaan Naomi pada saat itu. Tidak ada lagi laki-laki dalam keluarganya yang dapat mencari nafkah dan men-support dia dan dua orang menantunya yang bernama Orpa dan Ruth.

Rut 1:6-10 (BIMK)
6 Beberapa waktu kemudian Naomi mendengar bahwa TUHAN telah memberkati umat Israel dengan hasil panen yang baik. Karena itu Naomi dengan kedua menantunya berkemas untuk meninggalkan Moab.
7 Mereka berangkat bersama-sama pulang ke Yehuda. Di tengah jalan
8 Naomi berkata kepada kedua menantunya itu, “Kalian pulang saja ke rumah ibumu. Semoga TUHAN baik terhadap kalian seperti kalian pun baik terhadap saya dan terhadap mereka yang telah meninggal itu.
9 Semoga TUHAN berkenan memberikan jodoh kepada kalian supaya kalian berumah tangga lagi.” Setelah mengatakan demikian, Naomi pamit kepada mereka dan mencium mereka. Tetapi Orpa dan Rut menangis keras-keras,
10 dan berkata kepada Naomi, “Tidak, Bu! Kami ikut bersama Ibu pergi kepada bangsa Ibu.”

Pada ayat ini kita dapati Naomi memberikan kesempatan kepada kedua menantunya, untuk kembali pulang ke rumah orang tua mereka masing-masing, untuk mengejar mimpi mereka membangun rumah tangga. Sebab mereka masih muda! Namun keduanya, Orpa dan Rut, menolak untuk meninggalkan Naomi.

Rut 1:11-17 (BIMK)
11 “Jangan, nak!” jawab Naomi, “kalian lebih baik pulang. Untuk apa kalian ikut dengan saya? Bukankah saya tak bisa lagi melahirkan anak untuk menjadi suamimu?
12 Pulanglah, nak, sebab saya sudah terlalu tua untuk menikah lagi. Dan seandainya masih ada juga harapan bagi saya untuk menikah malam ini juga dan mendapat anak laki-laki,
13 apakah kalian mau menunggu sampai mereka besar? Masakan karena hal itu kalian tidak menikah dengan orang lain? Tidak, anakku, janganlah begitu! Saya merasa sedih akan apa yang kalian harus alami karena hukuman TUHAN kepada saya.”
14 Rut dan Orpa menangis lagi keras-keras kemudian Orpa pamit sambil mencium ibu mertuanya lalu ia pun pulang. Tetapi Rut tidak mau berpisah dari ibu mertuanya itu.
15 Berkatalah Naomi kepadanya, “Rut, lihatlah! Iparmu sudah pulang kepada bangsanya dan kepada dewa-dewanya. Pergilah kau juga, nak, ikutilah dia pulang!”
16 Tetapi Rut menjawab, “Ibu, janganlah Ibu menyuruh saya pulang dan meninggalkan Ibu! Saya mau ikut bersama Ibu. Ke mana pun Ibu pergi, ke situlah saya pergi. Di mana pun Ibu tinggal, di situ juga saya mau tinggal. Bangsa Ibu, itu bangsa saya. Allah yang Ibu sembah, akan saya sembah juga.
17 Di mana pun Ibu meninggal, di situ juga saya mau meninggal dan dikuburkan. TUHAN kiranya menghukum saya seberat-beratnya, jika saya mau berpisah dari Ibu, kecuali kematian memisahkan kita!”

Pada ayat ini kita bisa melihat kata “dabaq” yang artinya melekat, menempel / pegang erat.

Sebuah kata yang menggambarkan kesetiaan dan pengabdian. Apa yang dilakukan Rut terhadap Naomi menggambarkan sebuah komitmen yang luar biasa.
Padahal sebenarnya Rut mempunyai pilihan untuk meninggalkan Naomi, dan menjauh dari mertuanya yang malang hidupnya ini, dan Naomi pun memberikan pilihan itu kepada Rut.

Satu komitmen yang luar biasa. Rut tidak hanya mau menjadi anggota keluarga Naomi, pada saat keadaan baik saja, tetapi dia juga tetap ikut, pada saat keadaan kurang baik; itulah yang dinamakan komitmen.

Rut 2:11-12 (TB)
11 Boas menjawab: “Telah dikabarkan orang kepadaku dengan lengkap segala sesuatu yang engkau lakukan kepada mertuamu sesudah suamimu mati, dan bagaimana engkau meninggalkan ibu bapamu dan tanah kelahiranmu serta pergi kepada suatu bangsa yang dahulu tidak engkau kenal.
12 TUHAN kiranya membalas perbuatanmu itu, dan kepadamu kiranya dikaruniakan upahmu sepenuhnya oleh TUHAN, Allah Israel, yang di bawah sayap-Nya engkau datang berlindung.”

Boas mengetahui bagaimana komitmen yang Rut lakukan terhadap sanak familinya. Itu sebab nya Boas mengijinkan Rut untuk memungut gandum di ladangnya.

Rut menutup kemungkinan dia berkeluarga lagi karena punya komitmen untuk menjaga mertuanya

Rut 2:20 (TB)
Sesudah itu berkatalah Naomi kepada menantunya: “Diberkatilah kiranya orang itu oleh TUHAN yang rela mengaruniakan kasih setia-Nya kepada orang-orang yang hidup dan yang mati.” Lagi kata Naomi kepadanya: “Orang itu kaum kerabat kita, dialah salah seorang yang wajib menebus kita.”Ini kata Naomi, tentang Boas.

Rut 3:12-13 (BIMK)
12 Memang benar, saya harus bertanggung jawab atas kehidupanmu, sebab saya adalah keluargamu yang dekat. Tetapi masih ada lagi seorang lain yang harus bertanggung jawab atas kehidupanmu. Dan dia adalah keluarga yang lebih dekat daripada saya.
13 Malam ini kautinggal dulu di sini saja. Besok pagi saya akan tanyakan apakah ia mau melaksanakan tanggung jawabnya itu terhadapmu atau tidak. Kalau ia mau, baiklah; tetapi kalau ia tidak mau, maka saya berjanji demi Allah yang hidup, saya akan melaksanakan tanggung jawab itu. Sekarang tidurlah saja di sini sampai pagi.”

Rut 4:13-17 (BIMK)
13 Maka Boas pun mengambil Rut menjadi istrinya. TUHAN memberkati Rut sehingga ia hamil lalu melahirkan seorang anak laki-laki.
14 Para wanita berkata kepada Naomi, “Terpujilah TUHAN! Ia sudah memberikan seorang cucu laki-laki kepadamu pada hari ini untuk memeliharamu. Semoga anak itu menjadi termasyhur di Israel!
15 Menantumu itu sangat sayang kepadamu. Ia telah memberikan kepadamu lebih daripada apa yang dapat diberikan oleh tujuh orang anak laki-laki. Sekarang ia telah memberikan seorang cucu laki-laki pula kepadamu, yang akan memberi semangat baru kepadamu, dan memeliharamu pada masa tuamu.”
16 Naomi mengambil anak itu lalu memeliharanya dengan penuh kasih sayang.
17 Para wanita tetangga-tetangga mereka menamakan anak itu Obed. Kepada setiap orang mereka berkata, “Naomi sudah mempunyai seorang anak laki-laki!” Obed inilah yang kemudian menjadi ayah dari Isai, dan Isai adalah ayah Daud.

Rut yang tadinya seorang wanita asing sekarang menjadi nenek moyang Yesus di tanah Betlehem. Semua karena komitmen. Komitmennya terbayarkan.

Ada 3 Komitmen penting yang harus dikerjakan:
1. Komitmen mengikuti Tuhan.
Komitmen Yesus jauh lebih besar daripada apa yang Dia rasakan. Bayangkan, Yesus yang tidak bersalah dijatuhi hukuman mati. Dia yang berbuat kebaikan kepada banyak orang dengan melakukan mukjizat, menyembuhkan orang sakit, tetapi malah dihukum, dirajam, diludahi, dipakaikan mahkota duri di kepala-Nya, dan disalibkan.

2. Komitmen untuk menjadi yang terbaik bagi diri sendiri
Untuk mengeluarkan potensi kita perlu mempunyai komitmen. Talenta mungkin dapat membawa kita ke tingkat tertentu, tetapi tidak cukup bisa diandalkan kalau kita mau mendapatkan pencapaian yang hebat.

Talenta membawa kita ke tempat tertentu. Untuk berhasil mencapai pencapaian luar biasa kita perlu komitmen. Tidak ada yang hebat yang dapat dicapai kalau kita santai. Modal talenta saja tidak cukup untuk membawa ke tempat yang lebih tinggi
Miliki komitmen utk mengeluarkan potensi yang sudah Tuhan titipkan. Pergunakan waktu yang ada dengan sebaik mgkn dan jangan mudah menyerah

3. Komitmen untuk membangun keluarga yang sehat
Para suami, milikilah komitmen untuk menjadi suami yang terbaik buat istrimu. Para istri, milikilah komitmen untuk menjadi istri yang terbaik buat suamimu.
Milikilah komitmen untuk menjadi orang tua yang terbaik buat anak-anak kalian, dan juga sebaliknya! Punyailah komitmen untuk mengerjakan pekerjaan rumah kalian, untuk terus belajar dan memelihara cinta kasih.

God Bless
www.grfaith.net

Written by : GR Faith

Subscribe To GRFaith Newsletter

BE NOTIFIED ABOUT NEW SERMONS OF THE WEEK

Thank you for your message. It has been sent.
There was an error trying to send your message. Please try again later.

Blessed to be a blessing

Leave A Comment